RESEARCH – Muhammad Reza Ilham Taufani, CNBC Indonesia | 27 February 2024 07:10

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara melanjutkan penguatan sebanyak lima hari perdagangan beruntun. Penguatan ini datang dari sentimen dua negara konsumen batu bara terbesar global yaitu India dan China.

Menurut data dari Refinitiv, pada perdagangan Kamis (22/02/2024), harga batu bara ICE Newcastle kontrak Maret ditutup di harga US$ 128,5 per ton atau naik 2,59%. Harga batu bara saat ini merupakan yang tertinggi dalam sebulan terakhir atau sejak 10 Januari 2024.

Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan signifikan dalam produksi listrik India sebesar 6,60% dari April hingga Januari 2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan Global Green News, terdapat pertumbuhan luar biasa sebesar 10,06% dalam pembangkit listrik berbasis batu bara selama periode tersebut.

Impor batu bara untuk pencampuran memang mengalami penurunan signifikan sebesar 36,69% menjadi 19,36 juta ton selama Apr’23-Jan’24 dari 30,58 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan komitmen India untuk mencapai swasembada produksi batu bara dan mengurangi ketergantungan pada impor batu bara secara keseluruhan.

Namun, besarnya kebutuhan batu bara India bisa meningkatkan impor ke depan dan inilah yang menjadi penopang kenaikan harga pasir hitam.

Pemerintah India terus berupaya meningkatkan produksi batu bara dengan tujuan meningkatkan ketersediaan dan mengurangi ketergantungan pada impor batu bara. Coal India Limited (CIL) menargetkan produksi sebanyak 838 juta ton batu bara pada tahun keuangan 2024-25, di mana 661 juta ton akan dipasok ke sektor listrik. Hal ini diungkapkan oleh PM Prasad, Chairman and Managing Director CIL, dalam konferensi pers kuartal ketiga 2024 yang dikutip dari Money Control.

Meskipun target awal Coal India adalah 850 juta ton, namun karena adanya stok batu bara yang cukup besar di pembangkit listrik termal, target produksi direvisi menjadi 838 juta ton untuk 2025. Prasad menyatakan bahwa jika permintaan listrik meningkat secara substansial, Coal India tetap dapat memproduksi lebih dari target tersebut.

India mengalami peningkatan permintaan listrik sebesar 50,8% dalam periode 2013-14 hingga 2022-23, dengan puncak permintaan listrik mencapai 243 GW pada September 2023. Pemerintah India berencana untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara guna menghadapi puncak permintaan listrik yang diperkirakan mencapai 256,5 GW pada 2024.

India terpaksa mengandalkan impor batu bara untuk mengatasi tekanan pada pasokan batu bara domestik. Namun, dengan peningkatan produksi batu bara dalam negeri, Coal India berharap dapat mengurangi impor batu bara secara bertahap.

Di sisi lain, impor batu bara untuk pencampuran di China mengalami penurunan signifikan sebesar 36,69% menjadi 19,36 juta ton pada periode April-Januari mengutip dari Zeebis. Ini mencerminkan komitmen China untuk mencapai swasembada produksi batu bara dan mengurangi impor batu bara secara keseluruhan.

Dengan perubahan dalam pemandu listrik global dan upaya kedua negara untuk mencapai swasembada batu bara, pasar batu bara dapat terus mengalami perubahan dalam waktu mendatang.

CNBC INDONESIA RESEARCH

research@cnbcindonesia.com

(mza/mza)